Istigosah PWNU Maluku di Banda Neira, Abd. Gani Wael Lantik 31 Majelis Taklim Banda Naira


BANDA, MANUSELANEWS.COM. – Nuansa khidmat dan semangat kebersamaan mewarnai pelaksanaan istigosah yang digelar Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Provinsi Maluku di Pulau Banda.
Kegiatan yang berlangsung Rabu, 21 Januari 2026 itu dipusatkan di Istana Mini Banda Neira dan dihadiri jajaran pengurus PWNU, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta jamaah dari berbagai wilayah.
Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Maluku Tengah, Abd. Gani Wael, S.Ag., M.H., yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Tanfidziyah PWNU Provinsi Maluku, hadir dan mengambil peran penting dalam kegiatan tersebut. Kehadirannya dinilai sebagai cerminan sinergi antara pemerintah dan organisasi keagamaan dalam membina umat serta memperkuat nilai-nilai spiritual di tengah masyarakat.
Pada momentum istigosah yang sarat doa dan harapan itu, Abd. Gani Wael secara resmi melantik 31 Majelis Taklim. Pelantikan tersebut menjadi bagian dari komitmen PWNU Provinsi Maluku dalam memperkuat majelis taklim sebagai basis pembinaan umat, penguatan nilai-nilai keislaman, serta pengembangan dakwah yang moderat, ramah, dan inklusif.
Dalam sambutannya, Abd. Gani menegaskan peran strategis majelis taklim dalam kehidupan sosial keagamaan masyarakat.
“Majelis taklim bukan sekadar ruang belajar keagamaan, tetapi juga ruang pembentukan karakter, persaudaraan, dan kepedulian sosial. Dari majelis taklim, kita membangun umat yang kuat dalam iman, matang dalam akhlak, dan peduli pada lingkungan sosialnya,” ujar Abd. Gani Wael.
Ia berharap, 31 majelis taklim yang baru dilantik dapat menjadi motor penggerak kegiatan keagamaan di tingkat akar rumput, sekaligus mempererat ukhuwah islamiyah dan memperkokoh persatuan umat di Maluku, khususnya di wilayah Kepulauan Banda.
“Majelis taklim harus menjadi pusat dakwah yang menyejukkan. Menguatkan persatuan, mengajarkan nilai moderasi, dan menghadirkan Islam yang ramah dalam kehidupan bermasyarakat,” tambahnya.
Khusus di Banda Neira dan sekitarnya, keberadaan majelis taklim diharapkan mampu menjadi “cahaya” yang menerangi kehidupan sosial masyarakat—menghadirkan dakwah yang membangun harmoni, memperkuat kebersamaan, serta menjadi perekat dalam keberagaman.
Rangkaian kegiatan istigosah ditutup dengan doa bersama untuk keselamatan bangsa, kemajuan umat, serta terwujudnya masyarakat yang religius, rukun, dan harmonis. Dari Banda Neira, pesan spiritual dan persaudaraan kembali ditegaskan sebagai fondasi utama dalam membangun Maluku yang damai dan berkeadaban. (MN-01).

