Istigasah Harlah NU ke-100 di Banda Neira, Harmoni Lintas Iman Menguatkan Persaudaraan Banda Naira
DAERAH


MASOHI, MANUSELANEWS.COM. – Semangat kebersamaan dan persaudaraan lintas iman terasa kuat dalam pelaksanaan Istigasah Hari Lahir (Harlah) Nahdlatul Ulama (NU) ke-100 yang berlangsung khidmat di Istana Mini Banda Neira, Kabupaten Maluku Tengah. Kamis (22/1).
Kegiatan spiritual yang sarat makna ini tidak hanya dihadiri oleh keluarga besar NU, namun juga melibatkan unsur Kementerian Agama Kabupaten Maluku Tengah. Salah satu yang turut hadir mengikuti rangkaian istigasah adalah Kepala Seksi Bimas Kristen, Gloria Sitania.
Kehadirannya menjadi simbol nyata komitmen Kemenag dalam merawat toleransi dan memperkuat kerukunan umat beragama, khususnya di Banda Neira yang dikenal menjunjung tinggi nilai persaudaraan.
Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Maluku Tengah, Abd. Gani Wael, yang hadir sebagai narasumber, menyampaikan bahwa peringatan Harlah NU bukan sekadar agenda keagamaan, melainkan juga ruang bersama yang mempertemukan nilai-nilai kebangsaan dan kemanusiaan.
“Peringatan Harlah NU ke-100 ini tidak hanya menjadi momentum spiritual bagi warga NU, tetapi juga menjadi ruang perjumpaan yang hangat antarumat beragama. Inilah wujud nyata moderasi beragama yang terus kita rawat bersama,” ungkap Abd. Gani Wael.
Menurutnya, semangat kebersamaan dalam istigasah memperlihatkan wajah Indonesia yang sesungguhnya: beragam, namun tetap satu dalam cita-cita damai dan saling menghormati. Ia menilai partisipasi lintas iman dalam kegiatan keagamaan seperti ini menjadi contoh baik bagi generasi muda dalam menjaga persatuan.
Suasana penuh doa dan harapan mewarnai jalannya istigasah. Kegiatan ini menjadi titik temu nilai-nilai kemanusiaan, di mana perbedaan tidak menjadi batas, melainkan jembatan untuk saling menguatkan dan meneguhkan persaudaraan.
Kehadiran unsur Bimas Kristen dalam istigasah NU menegaskan pesan penting bahwa harmoni sosial dapat tumbuh subur apabila seluruh elemen masyarakat saling membuka ruang, saling menghargai, dan bersedia berjalan bersama dalam semangat kebangsaan.
Dari Banda Neira, pesan damai kembali digaungkan: toleransi, saling menghormati, dan persaudaraan adalah fondasi utama dalam membangun kehidupan bermasyarakat yang rukun dan berkeadaban. Peringatan Harlah NU ke-100 pun menjelma menjadi perayaan bersama—bukan hanya milik satu golongan, tetapi milik seluruh anak bangsa yang merindukan Indonesia yang damai dan bersatu. (MN-01).

