MANUSELANEWS.COM

Gema Satu Abad di Tanah Pala: Lautan Manusia Membiru di Depan Istana Mini Banda

1/22/20261 min baca

BANDA, MANUSELANEWS.COM – Kepulauan Banda terasa berbeda pada pagi itu. Udara yang biasanya membawa harum pala, Kamis (21/1/2026), seakan turut membawa semangat kebersamaan dan persatuan.

Di depan Istana Mini Banda Neira yang sarat sejarah, lautan manusia membiru dalam Pawai Ta’aruf memperingati Satu Abad (100 Tahun) Masehi Nahdlatul Ulama (NU)—sebuah momen yang menyatukan tradisi, iman, dan cinta tanah air dalam satu langkah.

Ribuan peserta dari berbagai latar belakang tumpah ruah, melangkah serempak dengan senyum, yel-yel persaudaraan, serta atribut kebesaran NU yang mendominasi warna pawai. Pemandangan ini bukan sekadar keramaian, tetapi gambaran hidup dari kekuatan persatuan yang dirawat dari generasi ke generasi.

Di tengah kerumunan, tampak Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Maluku Tengah, Abd. Gani Wael, S.Ag., M.H., hadir membaur tanpa sekat. Ia didampingi Ketua DWP Kemenag Maluku Tengah, Ny. Rubiah Latukau Wael, S.Ag. Kehadiran keduanya menambah kehangatan tersendiri, menyatu bersama masyarakat di bawah terik matahari Banda.

Pawai dilepas tepat di depan Istana Mini, lalu bergerak menyusuri rute yang penuh makna: Polsek Banda – Lapangan Guntur – LPTQ – hingga kawasan permukiman warga di Kampung Baru. Sepanjang perjalanan, kibaran bendera NU berpadu dengan lambaian tangan warga, menciptakan harmoni sosial yang menjadi ciri kuat Banda Neira—hidup berdampingan, saling menghormati, dan tetap bersaudara dalam keberagaman.

Bagi Abd. Gani Wael, peringatan satu abad NU bukan sekadar seremoni tahunan. Ia memaknainya sebagai penegasan atas kontribusi panjang NU dalam menjaga persatuan bangsa serta memperkuat nilai kebangsaan hingga ke pelosok negeri.

“Kehadiran kami adalah bentuk dukungan penuh terhadap peran besar Nahdlatul Ulama dalam menjaga persatuan, memperkuat kehidupan sosial umat, serta menanamkan nilai kebangsaan di Bumi Pamahanunusa,” tuturnya di sela kegiatan.

Ia juga menilai pawai ta’aruf seperti ini bukan hanya perayaan organisasi, tetapi ruang perjumpaan sosial yang mempererat hubungan antarwarga, menumbuhkan semangat gotong royong, dan menguatkan pesan moderasi beragama.

Dari Tanah Pala, gema satu abad NU bergema bukan hanya lewat lantunan doa dan pekik persaudaraan, tetapi juga lewat langkah-langkah yang menyatu di jalanan Banda—menegaskan bahwa persatuan tetap menjadi warisan paling berharga untuk dijaga bersama. (MN-01).