MANUSELANEWS.COM

Etnobotani sebagai Pintu Masuk Revitalisasi Bahasa Daerah di Maluku

OPINI

1/10/20266 min baca

Rusman Dani Rumaen (Akademisi STKIP Gotong Royong Masohi, Dewan Pakar PGRI Maluku Tengah, Wakil Ketua Bidang Penelitian, Publikasi dan Pengembangan Ilmu Pengetahuan MPW Pemuda ICMI Maluku

Bahasa daerah Maluku merupakan salah satu kekayaan budaya yang menyimpan memori kolektif, pengetahuan ekologis, dan nilai-nilai hidup masyarakat. Namun, dalam beberapa dekade terakhir, banyak bahasa daerah di Maluku mengalami kemunduran dan ada bahkan yang telah punah. Berdasarkan data yang dirilis berita antaranews.com, Kantor Bahasa Provinsi Maluku menyatakan bahwa tiga dari 70 bahasa daerah yang terdata di wilayah Provinsi Maluku sudah punah, karena tidak ada lagi penutur. Dari ketiga bahasa yang telah punah yaitu bahasa Hoti, bahasa Kaiely (Kayeli), dan bahasa Piru, dari Seram Bagian Barat. Sehingga, penting untuk generasi kita di ajarkan sejak dini untuk mengenal bahasa daerahnya. Karena, generasi muda semakin jarang menggunakan bahasa ibu, bahkan tidak lagi mengenal kosakata dasar yang berkaitan dengan lingkungan sekitarnya. Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka bahasa daerah tidak hanya terancam punah, tetapi juga akan membawa serta hilangnya pengetahuan lokal yang selama ini menopang kehidupan masyarakat Maluku. Oleh karena itu, revitalisasi bahasa daerah menjadi agenda mendesak yang harus diintegrasikan secara sistematis ke dalam pendidikan dan kebijakan daerah. Salah satu pendekatan yang paling relevan dan kontekstual adalah etnobotani.

Etnobotani, sebagai suatu disiplin ilmu yang menggabungkan antropologi dan botani menjadi suatu disiplin ilmu yang begitu penting dalam revitalisai bahasa. Dimana, etnobotani sebagai suatu kajian tentang relasi manusia dan tumbuhan dalam konteks budaya. Royyani dkk., (2023), menyampaikan pada spektrum yang lebih luas, manusia tergantung dan selalu berinteraksi dengan lingkungan. Eratnya hubungan antara manusia dan lingkungan membuat sekelompok ahli antropologi berpandangan bahwa budaya yang ada dan tercipta di masyarakat adalah produk dari suatu lingkungan. Dengan kata lain, semua aspek budaya dan perilaku manusia ditentukan oleh pengaruh lingkungan yang ada di sekitarnya. Sehingga, etnobotani memiliki posisi strategis dalam upaya revitalisasi bahasa daerah Maluku. Dalam masyarakat Maluku, tumbuhan bukan sekadar sumber daya alam, melainkan bagian dari sistem pengetahuan, identitas, dan praktik sosial. Nama-nama tumbuhan lokal, cara pengolahannya, serta makna simboliknya hidup dan diwariskan melalui bahasa daerah. Dengan demikian, etnobotani menyediakan pintu masuk yang alami dan bermakna untuk menghidupkan kembali bahasa daerah, terutama melalui jalur pendidikan dan kebijakan berbasis budaya lokal.

Dalam konteks pendidikan, bahasa daerah selama ini sering diperlakukan sebagai muatan tambahan yang terpisah dari kehidupan nyata siswa. Padahal, dalam konteks Maluku, upaya pemerintah provinsi dengan menerbitkan Peraturan Daerah No. 14 Tahun 2005 dan Peraturan Daerah No. 3 Tahun 2009 dalam menjaga dan melestarikan serta memfasilitasi bahasa daerah sebagai kurikulum muatan lokal di sekolah adalah bukti kepedulian akan bahasa daerah, namun peraturan-peraturan itu belum terimplementasikan secara maksimal. Padahal beberapa hasil penelitian terdahulu yang telah merumuskan tentang pembelajaran multibahasa di Indonesia dapat dijadikan rujukan dan model pembelajaran bahasa daerah. Walaupun di Maluku pembelajaran bahasa daerah cenderung bersifat tekstual, berorientasi hafalan, dan kurang kontekstual. Akibatnya, siswa tidak melihat relevansi bahasa daerah dengan kehidupan mereka sehari-hari.

Untuk menjadikan pembelajaran bahasa lebih bermakna dan tidak cenderung kontekstual penelitian terdahulu yang pernah dilakukan Bin-Tahir & Rinantanti (2016) kompetensi guru multibahasa, pembelajaran multibahasa (2017), model pembelajaran multibahasa (Bin-Tahir, dkk, 2017), model pengajaran multilingual sequential-simultaneous (Saidna, dkk, 2018), dan pengembangan materi pembelajaran dwi dan multibahasa (Baryadi, 2014;Tahir, 2017), ini dapat menjadi rujukan penting dalam menggairahkan pembelajaran bahasa. Selain adanya penelitian terdahulu yang menawarkan berbagai model, etnobotani dapat menawarkan pendekatan pedagogis yang berbeda, yaitu pembelajaran berbasis pengalaman langsung dengan lingkungan sekitar. Melalui pengenalan tumbuhan lokal seperti sagu, pala, cengkeh, kenari, kelapa, dan berbagai tanaman obat tradisional yang ada di maluku. Dimana siswa diajak belajar bahasa daerah dalam konteks yang hidup dan bermakna.

Sedangkan dalam konteks kurikulum, etnobotani dapat diintegrasi etnobotani dalam kurikulum muatan lokal dapat dilakukan melalui berbagai strategi pembelajaran. Misalnya, siswa dapat melakukan eksplorasi lingkungan sekolah atau desa untuk mengidentifikasi tumbuhan lokal dan mencatat nama-namanya dalam bahasa daerah. Setiap nama tumbuhan dapat menjadi pintu masuk untuk mempelajari kosakata, struktur kalimat, cerita rakyat, hingga nilai-nilai adat yang melekat padanya. Dengan cara ini, bahasa daerah tidak lagi diajarkan sebagai sistem linguistik yang terpisah, melainkan sebagai medium untuk memahami dunia sekitar. Bahkan kita dapat mengintegrasikan lebih jauh dengan suatu multidisplin ilmu etnobotani-linguisitik.

Pendekatan ini juga sejalan dengan paradigma pendidikan kontekstual dan pembelajaran berbasis proyek (project-based learning). Dalam proyek etnobotani, siswa tidak hanya belajar bahasa, tetapi juga mengembangkan keterampilan literasi, observasi ilmiah, berpikir kritis, dan kerja kolaboratif. Mereka dapat menyusun kamus mini tumbuhan lokal, menulis cerita rakyat berbasis tanaman tertentu, atau mendokumentasikan praktik pengobatan tradisional dengan melibatkan orang tua dan tetua adat sebagai bagian dari ekosistem pendidikan. Proses ini memperkuat hubungan antara sekolah, keluarga, dan komunitas, sekaligus menjadikan bahasa daerah sebagai jembatan antar-generasi dan menjadi suatu support sistem pendidikan yang kuat untuk peningkatan pembelajaran.

Lebih jauh lagi, etnobotani memungkinkan integrasi lintas mata pelajaran. Bahasa daerah dapat dihubungkan dengan IPA melalui kajian morfologi tumbuhan, dengan IPS melalui sejarah pemanfaatan tanaman, serta dengan pendidikan karakter melalui nilai-nilai kearifan lokal yang mendorong fleksibilitas, kreativitas, dan penguatan konteks lokal. Pendekatan lintas disiplin ini sangat relevan dengan konteks Kurikulum Nasional. Sejalan dengan yang disampaikan dalam pandangan Wahyudin et al., (2024) dalam artikelnya Kajian Akademik Kurikulum Merdeka bahwa kurikulum nasional memang telah memberikan ruang lebih besar bagi keberagaman budaya dan potensi lokal di setiap daerah yang bertujuan untuk memperkuat identitas budaya dan nilai-nilai lokal dalam konteks pembelajaran Dengan demikian, revitalisasi bahasa daerah tidak berdiri sendiri, tetapi menjadi bagian integral dari transformasi pendidikan.

Di tingkat kebijakan daerah, etnobotani dapat dijadikan dasar perumusan program strategis pelestarian bahasa dan budaya. Pemerintah daerah Maluku memiliki peran penting dalam menciptakan ekosistem kebijakan yang mendukung integrasi bahasa daerah ke dalam pendidikan berbasis kearifan lokal. Penetapan etnobotani sebagai salah satu tema utama muatan lokal dapat menjadi langkah konkret untuk memastikan bahwa bahasa daerah diajarkan secara sistematis dan berkelanjutan. Kebijakan ini juga dapat diperkuat melalui regulasi tentang perlindungan pengetahuan lokal dan pengakuan terhadap peran masyarakat adat sebagai pemilik pengetahuan. Pemikiran ini sejalan dengan berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah Indonesia dalam melestarikan bahasa daerah sebagaimana amanat UUD 1945 menyatakan bahwa Negara menjamin dan menghormati kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat. Bahasa daerah merupakan alat pemersatu, identitas, dan kehormatan Negara. Sedangkan menurut Undang-Undang No. 24 Tahun 2009 dalam pasal 1 ayat 5 menyatakan bahwa bahasa daerah adalah bahasa yang digunakan secara turun temurun oleh warga Negara Indonesia di daerah-daerah dan di wilayah Negara Republik Indonesia.

Selain itu, kebijakan daerah dapat mendorong pendokumentasian etnobotani dalam bahasa daerah sebagai bagian dari arsip budaya Maluku. Dokumentasi ini tidak hanya penting untuk kepentingan akademik, tetapi juga sebagai bahan ajar di sekolah dan sumber pembelajaran masyarakat. Buku ajar muatan lokal, modul pembelajaran, dan media digital berbasis etnobotani dapat disusun dengan melibatkan guru, akademisi, dan komunitas adat. Dengan demikian, bahasa daerah tidak hanya dilestarikan, tetapi juga difungsikan secara aktif dalam ruang publik. Bahkan dalam pandangan lebih jauh ruang publik dapat dibuatkan dengan bahasa daerah maluku, misalnya ada nama-nama jalan yang hari ini memakai nama tumbuhan di integrasikan dengan bahasa lokal dari tumbuhan tersebut berdasarkan lokasi dari desa atau komunitas disekitarnya.

Selain itu, revitalisasi bahasa daerah melalui etnobotani juga memiliki implikasi penting bagi pembangunan berkelanjutan. Pengetahuan lokal tentang tumbuhan mencerminkan cara masyarakat Maluku menjaga keseimbangan alam. Nilai-nilai ekologis ini tersimpan dalam bahasa, terutama dalam istilah-istilah yang berkaitan dengan musim, larangan adat, dan tata kelola sumber daya alam. Ketika bahasa daerah diajarkan melalui etnobotani, siswa tidak hanya belajar kosakata, tetapi juga mewarisi etika lingkungan yang relevan dengan tantangan krisis ekologis saat ini. Dengan demikian, pendidikan bahasa daerah berkontribusi langsung pada pembentukan kesadaran ekologis generasi muda.

Namun, keberhasilan pendekatan ini sangat bergantung pada kesiapan sumber daya manusia dan komitmen kebijakan. Guru memegang peran kunci dalam mengimplementasikan etnobotani sebagai pendekatan pembelajaran bahasa daerah. Oleh karena itu, diperlukan pelatihan guru yang berorientasi pada penguatan pengetahuan lokal dan metodologi pembelajaran kontekstual. Guru perlu dibekali kemampuan untuk mengintegrasikan bahasa daerah, etnobotani, dan kurikulum secara kreatif dan reflektif. Tanpa dukungan ini, muatan lokal berisiko kembali menjadi formalitas administratif.

Selain guru, keterlibatan masyarakat adat merupakan syarat utama keberhasilan revitalisasi bahasa daerah berbasis etnobotani. Pengetahuan tentang tumbuhan dan bahasa daerah hidup dalam praktik keseharian masyarakat maluku, bukan hanya dalam buku teks. Oleh karena itu, kebijakan pendidikan daerah di maluku perlu membuka ruang partisipasi bagi tetua adat, praktisi dan akademisi. Kehadiran mereka di ruang kelas atau kegiatan belajar lapangan tidak hanya memperkaya pembelajaran, tetapi juga mengembalikan otoritas pengetahuan kepada komunitas lokal dan siswa.

Tantangan lainnya adalah persepsi sosial terhadap bahasa daerah. Selama bahasa daerah masih dipandang sebagai simbol keterbelakangan atau tidak memiliki nilai ekonomi, upaya revitalisasi akan menghadapi hambatan. Di sinilah kebijakan daerah perlu berperan dalam mengubah paradigma. Bahasa daerah harus diposisikan sebagai aset budaya dan sumber daya strategis yang mendukung pariwisata budaya, ekonomi kreatif, dan pembangunan berkelanjutan. Etnobotani, dengan potensi ekonominya di bidang pangan lokal, obat tradisional, dan produk ramah lingkungan, dapat menjadi bukti nyata bahwa bahasa daerah memiliki nilai praktis dan keberlanjutan.

Pada akhirnya, menjadikan etnobotani sebagai pintu masuk revitalisasi bahasa daerah Maluku melalui pendidikan dan kebijakan daerah merupakan pilihan yang visioner dan kontekstual. Pendekatan ini tidak hanya menjawab persoalan kepunahan bahasa, tetapi juga menguatkan identitas budaya, pengetahuan lokal, dan kesadaran ekologis masyarakat. Bahasa daerah kembali menemukan ruang hidupnya di kebun, hutan, sekolah, dan ruang-ruang kebijakan publik.

Revitalisasi bahasa daerah Maluku tidak cukup dilakukan dengan slogan atau seremonial budaya. Ia membutuhkan pendekatan yang menyentuh akar kehidupan masyarakat. Melalui etnobotani, bahasa daerah tidak sekadar diajarkan, tetapi dihidupkan kembali sebagai bahasa yang berpikir dan bertumbuh, bekerja, dan merawat kehidupan. Dengan dukungan pendidikan yang kontekstual dan kebijakan daerah yang berpihak pada kearifan lokal, bahasa daerah Maluku memiliki peluang besar untuk terus hidup dan berkembang di tengah perubahan zaman*.